Keluhan “PPPoE-nya putus nyambung” hampir tidak pernah selesai dengan mengganti password. Yang menentukan adalah pola putusnya: apakah berulang dengan jarak yang sama, apakah hanya saat trafik ramai, atau benar-benar acak. Tiga pola itu menunjuk ke tiga penyebab berbeda.
Mulai dari satu perintah yang menentukan arah pemeriksaan.
/interface pppoe-client monitor pppoe-out1 once
Perhatikan status, uptime, dan encoding. Kalau uptime baru beberapa menit sementara router
menyala berjam-jam, berarti sesi memang berulang kali diulang dari nol. Catat angka itu — ia jadi
pembanding setelah ada perubahan.
Langkah 1 — Baca log, bukan menebak
/log print where topics~"pppoe"
Baris yang paling sering muncul, dan artinya:
pppoe-out1: authenticateddiikutiterminating...dalam waktu singkat → sesi berhasil, lalu diputus oleh salah satu pihak. Lanjut ke langkah 3.LCP terminated by peer→ sisi ISP (atau perangkat di depannya) mengirim permintaan putus. Ini petunjuk kuat masalah di hulu, bukan di routermu.peer not responding→ router tidak menerima balasan dari ISP. Biasanya link fisik atau VLAN.authentication failed→ user/password atau tipe layanan salah. Ini tidak terasa seperti “putus nyambung”, tapi kalau router mencoba ulang terus, gejalanya mirip.timeout waiting for PADO→ permintaan PPPoE tidak dijawab sama sekali: VLAN salah, kabel, atau port di switch/ONT berbeda.
Sertakan dua kolom: waktu (/log print detail menampilkan tanggal-jam) dan durasi antar kejadian.
Putus setiap 60–120 detik itu pola yang sangat berbeda dari putus sekali setiap beberapa jam.
Langkah 2 — Periksa lapisan di bawah PPPoE
PPPoE tidak akan stabil di atas link yang error. Lihat statistik interface fisik yang dipakai:
/interface ethernet print stats
/interface ethernet monitor ether1 once
Yang perlu dicurigai: kolom rx-error, tx-error, rx-drop yang terus bertambah, plus status
running yang sesekali no. Kalau angka error bertambah sementara trafik biasa, penyebabnya bisa
kabel, konektor, SFP, adaptor PoE yang lemah, atau port di perangkat ISP.
Pada beberapa penyedia, PPPoE memakai VLAN tertentu. Kalau timeout waiting for PADO muncul, cek
service-name dan vlan-id yang diberikan ISP — dua field ini sering tertukar antar pelanggan saat
migrasi paket.
Langkah 3 — Cek MTU dan MSS
Ini penyebab paling sering dari keluhan yang terdengar lain: “konek, tapi WhatsApp dan beberapa situs tidak jalan” atau “unduhan besar malah memutus koneksi”. Gejalanya muncul saat paket besar lewat, sehingga orang menyebutnya putus-nyambung.
/interface pppoe-client print detail
max-mtu dan max-mru biasanya 1480 atau 1492 tergantung ISP. Setelah itu pastikan MSS di-clamp:
/ip firewall mangle
add chain=forward protocol=tcp tcp-flags=syn action=change-mss new-mss=clamp-to-pmtu passthrough=yes comment="MSS clamp PPPoE"
Uji dengan ping berukuran besar, tanpa fragmentasi. Ganti angka sampai batas gagal:
/ping 8.8.8.8 count=4 size=1400 do-not-fragment
/ping 8.8.8.8 count=4 size=1472 do-not-fragment
Kalau ping 1400 lolos tetapi 1472 gagal, MTU efektif di jalurmu lebih kecil dari 1500 — normal untuk PPPoE, dan MSS clamp akan menyelesaikannya untuk trafik TCP.
Langkah 4 — Periksa beban dan connection tracking
Router yang kewalahan bisa memutus sesi PPPoE sendiri, terutama perangkat kelas bawah:
/system resource print
/ip firewall connection print count-only
Kalau CPU menyentuh 100% saat trafik ramai, dan connection count mendekati batas perangkat, putusnya
bukan dari ISP. Turunkan dulu beban (matikan queue yang berlebihan, kurangi rule yang berat), lalu uji
ulang sebelum menyimpulkan apa pun.
Langkah 5 — Cara menentukan ini masalah ISP
Kumpulkan tiga bukti ini dulu, baru hubungi ISP:
Bukti 1 — waktu putus. Ambil dari log dengan tanggal dan jam, bukan “sering putus”. Contoh yang kuat: “putus 14 kali antara 19.02–21.10, tiap kali sesi hanya bertahan 90–120 detik”.
Bukti 2 — link fisik bersih. Tangkapan layar /interface ethernet print stats yang menunjukkan
rx-error tidak bertambah selama periode putus.
Bukti 3 — pengujian tanpa router. Kalau memungkinkan, sambungkan satu laptop langsung ke ONT dengan kredensial PPPoE yang sama, lalu jalankan ping terus-menerus selama 15 menit. Kalau laptop juga putus, penyebabnya hampir pasti di hulu, dan router tidak perlu diutak-atik.
Tanpa ketiga bukti ini, keluhan biasanya dijawab dengan kalimat “dari pusat normal”, dan masalahnya berulang tanpa arah.
Yang biasanya memperbaiki, dan yang cuma menunda
Memperbaiki:
- MSS clamp kalau gejalanya hanya pada aplikasi tertentu.
- Memperbaiki kabel/konektor yang errornya bertambah.
- Menyesuaikan
keepalive-timeouthanya setelah penyebab putus diketahui — bukan sebagai pengobatan buta. - Mengganti perangkat kalau CPU memang penuh dan jumlah pelanggan terus bertambah.
Menunda:
- Mengganti password PPPoE berulang kali (kalau salah, login akan gagal total, bukan putus-nyambung).
- Menyalakan ulang router setiap hari sebagai rutinitas.
- Mengaktifkan
dial-on-demand— ini justru membuat sesi diputus saat dianggap idle.
Kalau jaringanmu dipakai banyak orang
Untuk jaringan yang menyalurkan pelanggan, putus-nyambung bukan hanya soal router: profil rate-limit, jumlah sesi aktif, dan queue ikut berpengaruh. Saya menangani ini sebagai pekerjaan remote dengan lingkup dan pengujian tertulis: jasa setting PPPoE & bandwidth management.
Paket terkait
PPPoE server & bandwidth management MikroTik
Pelanggan punya akun sendiri, kecepatan sesuai paket, dan yang boros kelihatan. Estimasi 90–150 menit untuk 1 server pppoe + sampai 20 pelanggan. di atas itu, waktu bertambah dan saya infokan sebelum mulai. · Mulai dari Rp 450.000.
Lihat lingkup kerja lengkap →Langkah berikutnya
Kirim kondisi jaringanmu, saya balas dengan lingkup kerja dan estimasi biayanya.
Balasan di jam kerja 08.00–21.00 WIB, biasanya di bawah 2 jam.
Chat WhatsAppPesan sudah terisi otomatis — tinggal tambahkan detail perangkatmu.